BANDUNG BARAT, majalahperjuangan.com — Komitmen memperkuat pendidikan berkarakter dan berorientasi nilai kemanusiaan terus digelorakan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bandung Barat. Pada Senin (12/10/2026), sebanyak 60 siswa dan 4 guru terpilih resmi berpartisipasi dalam Survei Nasional SAHABAT KBC Tahun 2026.
Agenda strategis nasional ini diselenggarakan oleh Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Berlaku pada 12–22 Oktober 2026 yang terbagi dalam tiga batch wilayah, survei ini bertujuan memetakan dan mengevaluasi implementasi nyata Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di seluruh madrasah se-Indonesia.
Melalui platform resmi SAHABAT KBC, ke-64 responden dari MAN Bandung Barat ini memegang peran vital untuk memotret potret objektif pembelajaran di lapangan—mulai dari dinamika kelas, praktik mengajar, hingga pembiasaan nilai-nilai kasih sayang dan saling menghormati.
Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Ilmu, tapi Membangun Karakter
Kepala MAN Bandung Barat, H. Ali Mursid, S.Pd., M.M.Pd., menegaskan bahwa keikutsertaan madrasahnya bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan momentum berharga untuk meneguhkan visi pendidikan berakhlak.
“Partisipasi ini adalah bentuk dukungan penuh kami terhadap ikhtiar Kementerian Agama. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan semata, tetapi harus menyentuh jiwa—membangun karakter, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan ruang belajar yang menghargai martabat setiap anak,” tegas Ali Mursid.
Ia memotivasi para siswa dan guru terpilih untuk mengisi survei secara jujur dan sungguh-sungguh berdasarkan pengalaman riil di madrasah.
“Data yang akurat berawal dari kejujuran. Jawaban objektif dari para responden akan menjadi pijakan penting lahirnya kebijakan pendidikan madrasah yang makin berkualitas, humanis, dan berorientasi pada pembentukan generasi berakhlak mulia,” tambahnya.
Menghidupkan Cinta dalam Praktik Pembelajaran Sehari-hari
Nada optimis serupa disampaikan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Hj. Elisa Yustina. Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta harus bernapas dalam interaksi nyata di sekolah, bukan sekadar tumpukan dokumen teoretis.
"Nilai cinta harus tercermin dalam keseharian: suasana kelas yang aman dan inklusif, saling menghargai perbedaan, serta komunikasi guru-siswa yang hangat. Survei ini menjadi cermin refleksi bagi kami untuk mengevaluasi sejauh mana pembelajaran telah berdampak dan bermakna,” ungkap Elisa.
Langkah Nyata Menuju Madrasah Unggul dan Berakhlak
Pengisian survei yang diakses secara daring melalui portal resmi Kemenag (`[https://madrasah.kemenag.go.id/sahabatkbc/login](https://madrasah.kemenag.go.id/sahabatkbc/login)`) ini berlangsung tertib. Para responden menuntaskan tiap butir evaluasi sesuai peran masing-masing.
Langkah MAN Bandung Barat dalam Survei Nasional SAHABAT KBC 2026 ini membuktikan bahwa transformasi madrasah terus bergerak maju. Bukan hanya mengejar pencapaian akademik setinggi langit, tetapi juga mengakar kuat pada karakter, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Sumber: Humas MAN Bandung Barat
Editor: Ahasan

0 Komentar