![]() |
| Gambar ilustrasi Ai. |
SATIRE
PERNAHKAH Anda melihat warung nasi langganan yang kini lebih sering melamun ketimbang melayani pembeli? Atau bengkel motor di sudut jalan yang mekaniknya lebih banyak menghabiskan waktu membersihkan kunci Inggris daripada memperbaiki rantai motor?
Jangan kaget jika jawabannya iya. Di tingkat rumput, ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Warung-warung makan sepi pembeli, bengkel kian loyo kehilangan pelanggan, dan kantin-kantin sekolah banyak yang gulung tikar karena anak-anak didik kini lebih memilih menyantap Makanan Bergizi Gratis untuk sekadar membuang rasa lapar.
Namun, jika Anda mengalihkan pandangan ke layar monitor para pembuat kebijakan, situasinya bagaikan bumi dan langit. Secara data dan angka, ekonomi nasional kita tampak begitu seksi dan berkilau. Pertumbuhan terjaga, grafik meliuk naik dengan gagahnya.
Ilusi Angka di Atas Penderitaan
Mengapa angkanya bisa begitu indah? Tentu saja. Statistik makroekonomi kita disokong oleh para raksasa. Ada DANANTARA, korporasi-korporasi besar, pengusaha program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencetak omzet di setiap pelosok desa, para raja sawit, pemilik hamparan padi seluas cakrawala, hingga para pengusaha kakap yang punya jalur tol langsung ke gedung senayan.
Melalui lobi-lobi gelap di balik pintu tertutup, aturan-aturan pun dirajut sedemikian rupa—bukan untuk melindungi pedagang keliling atau bengkel kampung, melainkan untuk memastikan para pemegang modal terus meraup untung tanpa kenal krisis.
Di atas kertas, kita makmur. Di atas meja makan rakyat, fakta yang ada hanyalah piring kosong.
Perut Rakyat: Lahan Gambut yang Siap Membara
Kesenjangan ini bukan sekadar soal angka statistik yang salah hitung. Ini soal perut yang kian keroncongan. Ketika daya beli rakyat bawah tergerus perlahan, yang tersisa adalah akumulasi kejengkelan.
Perut rakyat hari ini kian panas—sepanas lahan hutan gambut yang kering kerontang akibat kurang air. Dan kita tahu, gambut yang kering tidak butuh waktu lama untuk memantik api. Ia mudah membakar, mudah tersulut oleh percikan sekecil apa pun.
Harapan yang Belum Padam
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar untuk merumuskan angka pertumbuhan. Yang kita butuhkan hari ini adalah nurani para pengambil kebijakan untuk menengok ke bawah. Bahwa kemajuan bangsa yang sejati bukanlah seberapa tinggi gedung korporasi menjulang, melainkan seberapa tenang seorang ibu di perkampungan kumuh saat menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya.
Semoga para penguasa lekas sadar: sebelum panasnya perut rakyat benar-benar membakar tatanan, sudah saatnya kebijakan berpihak pada mereka yang hari ini sedang berjuang mempertahankan hidup di warung-warung kecil dan bengkel-bengkel pinggir jalan.
Penulis: A Hasan Sutisna ( Sekretaris MPPN Karawang ).

0 Komentar