![]() |
| Wadir I Bidang Akademik Poltek Prisain Yuyus Susilawati, M.Ag. |
JURNAL KAMPUS
“Manfaatkan AI sebagai alat bantu, tapi jangan sampai kita yang dikendalikan oleh AI.”
KARAWANG, majalahperjuangan.com – Kemeriahan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia (Poltek Prisain) 2026 dimulai sejak Sabtu pagi (3/10/2026). Pukul 06.30 WIB, para mahasiswa baru berbaris rapi berdasarkan program studi masing-masing. Diiringi bekal ringan serta yel-yel penuh semangat yang dipandu panitia, momen ini efektif membangun chemistry dan keakraban antar peserta sebelum memasuki Aula Poltek Prisain untuk pembukaan resmi pukul 08.00 WIB.
Memasuki sesi materi bertajuk “Mengenal Sistem Pendidikan Tinggi”, Wadir I Bidang Akademik Poltek Prisain, Ibu Yuyus Susilawati, M.Ag., mengajak mahasiswa memahami posisi dan peran baru mereka di perguruan tinggi.
![]() |
| Mahasiswa baru tampak antusias menyimak materi pada acara PKKMB Poltek Prisain Tahun 2026. |
Ibu Yuyus memaparkan perbedaan jenis pendidikan—akademik, vokasi, dan profesi. Sebagai institusi vokasi, Poltek Prisain menekankan kurikulum berorientasi praktik dan kesiapan kerja, salah satunya melalui program magang industri. Ia juga menekankan pentingnya Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai fondasi utama iklim akademik.
Lebih lanjut, Ibu Yuyus menggarisbawahi transformasi peran dari siswa menjadi mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa dituntut memiliki kemandirian belajar, mampu memvalidasi informasi, dan dibiasakan berpikir ilmiah tanpa menelan mentah-mentah suatu klaim.
Sesi berlanjut ke topik yang relevan dengan generasi muda: pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Ibu Yuyus melontarkan diskusi interaktif mengenai pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran. Pertanyaan tersebut disambut antusias oleh Aulia (Prodi TRPL) dan Jidan (Prodi Bisnis Digital), yang memaparkan penggunaan AI untuk efisiensi desain promosi hingga pendalaman materi perkuliahan.
Menanggapi hal itu, Ibu Yuyus memberikan pesan tegas namun adaptif:
“Manfaatkan AI sebagai alat bantu, tapi jangan sampai kita yang dikendalikan oleh AI.”
Ia menekankan bahwa AI adalah alat pendukung, sedangkan pemahaman mendalam dan kontrol utama tetap berada di tangan manusia. Teknologi hadir bukan sekadar untuk diikuti, melainkan untuk dipahami dan dimanfaatkan secara bijak.
"Tidak ada yang tidak bisa ketika kita mau memahami untuk beradaptasi," tutur Ibu Yuyus menutup sesinya dengan optimistis.
Reporter: Kania
Editorial: Redaksi majalahperjuangan.com


0 Komentar