Mandiri Secara Swakelola, Kelompok Tani Kedungsalam Rampungkan Pekerjaan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier

Kegiatan Proyek Swakelola RJIT di Kedungsalam.

KARAWANG
 – Di bawah terik matahari Kabupaten Karawang yang mulai menyengat, deru cangkul dan tawa renyah para petani di Kampung Kedungsalam, Kelurahan Plawad, menjadi harmoni baru. Bukan sedang memanen padi, belasan pria ini tengah sibuk menyusun batu dan semen. Mereka sedang membangun "nadi" bagi sawah-sawah mereka sendiri melalui proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT).


Ada pemandangan berbeda dalam proyek yang didanai oleh APBD Karawang tahun 2026 ini. Tak ada papan nama kontraktor besar. Sebagai gantinya, semangat swadaya yang kental terasa. Proyek senilai Rp 100 juta tersebut sepenuhnya dikerjakan secara swakelola oleh kelompok tani setempat, dibantu warga yang memiliki keahlian bangunan.


Kepala UPTD Pengelolaan Pertanian Karawang Timur, Intan Triana, MP.


Mandiri di Tanah Sendiri

Langkah memberdayakan petani sebagai pelaksana langsung ini bukan tanpa alasan. Kepala UPTD Pengelolaan Pertanian Karawang Timur, Intan Triana, MP,  menegaskan bahwa pelibatan masyarakat adalah kunci kualitas dan rasa memiliki.


"Proyek ini tidak dipihakketigakan. Kami memberdayakan 15 warga setempat bersama kelompok tani. Dengan membangun sendiri, mereka tentu akan memastikan kualitasnya sebaik mungkin karena mereka pulalah yang akan menggunakannya," ujar Intan saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (23/4/2026).


Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier di Kedungsalam.


Saluran irigasi sepanjang 200 meter dengan tinggi 0,60 meter dan tebal 0,30 meter ini dirancang bukan sekadar sebagai struktur beton. Ia adalah jawaban atas kegelisahan petani selama ini terkait distribusi air yang kerap tersumbat atau tidak merata.


Dalam pelaksanaannya, aspek teknis tetap terjaga ketat. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Kementerian Pertanian, Pardian, hadir mendampingi setiap tahapan. Dari gambar konsultan perencanaan hingga adukan semen, semua dipastikan sesuai spesifikasi.


"Peran saya memastikan apa yang dibangun di lapangan sesuai dengan rencana teknis. Namun, semangatnya tetap dari mereka, untuk mereka," kata Pardian. 


Ketua RW 07 Dusun Kedungsalam, H. Nurzen / RW Cokro.


Mimpi Sejahtera dari Hulu ke Hilir

Irigasi tersier sering kali dianggap sebagai urusan teknis belaka, namun bagi warga Kelurahan Plawad, ini adalah soal keberlanjutan hidup. Saluran air yang representatif diharapkan mampu mendongkrak produktivitas gabah yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani.


Ketua RW 07 Dusun Kedungsalam, H. Nurzen, atau yang akrab disapa RW Cokro, tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, kehadiran bantuan dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang ini adalah angin segar bagi para pemilik lahan yang menggantungkan hidup dari tanah.


"Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten. Namun, harapan kami tentu pembangunan ini tidak berhenti di sini. Kami bermimpi jaringan irigasi ini bisa tuntas menyentuh seluruh titik areal persawahan hingga ke ujung," tutur Nurzen penuh harap.


Di Kedungsalam, pembangunan irigasi ini bukan sekadar urusan memindahkan air dari parit ke sawah. Ini adalah tentang bagaimana sebuah kebijakan publik dikelola dengan tangan-tangan tulus para petani—sebuah upaya kolektif untuk memastikan bahwa Karawang tetap tegak sebagai lumbung pangan nasional, dimulai dari saluran-saluran kecil di pinggir desa.


---

Laporan: Hamid  

Editor: Ahmad Hasan S


0 Komentar