
Kepala Dinas DPKPP Kab. Karawang, Drs. Rohman, M.Si, sebagai narasumber utama.
KARAWANG – Masa depan ketahanan pangan nasional tidak lagi sekadar urusan mencangkul tanah dan menanam padi, melainkan tentang bagaimana mengelola data yang akurat demi keberlanjutan sumber daya air. Tanpa data yang mutakhir, strategi besar swasembada pangan berisiko kehilangan arah.
Kesadaran inilah yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Inventarisasi Areal Sawah Tahun 2026 yang diinisiasi oleh Perum Jasa Tirta II di Hotel Brits Karawang, Kamis (21/5/2026).
Hadir sebagai narasumber utama, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPKPP) Kabupaten Karawang, Drs. Rohman, M.Si, menekankan bahwa sinkronisasi data lahan sawah kini menjadi agenda yang krusial dan mendesak.
Menurut Rohman, akurasi data areal sawah bukan lagi sekadar angka-angka di atas kertas laporan, melainkan fondasi utama bagi kelangsungan hidup para petani dan masa depan irigasi di lumbung padi Jawa Barat.
"Data yang akurat dan mutakhir adalah kompas kita. Kita tidak bisa merumuskan kebijakan pengelolaan air yang optimal jika peta areal sawah kita masih meraba-raba. Melalui inventarisasi ini, kita sedang mengunci kepastian masa depan pangan di Karawang," tegas Rohman di hadapan peserta FGD.
Ia juga menambahkan bahwa tantangan alih fungsi lahan yang dinamis menuntut seluruh pemangku kepentingan untuk tidak lagi bekerja dalam sekat-sekat ego sektoral.
Menghapus Sekat, Membangun Pemahaman Bersama
Agenda strategis ini pun menjadi ruang bertemunya para pengambil kebijakan di lapangan. Mulai dari perwakilan UPTD Pengelola Pertanian Kecamatan se-Kabupaten Karawang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Karawang, hingga pihak Daerah Irigasi (DI) Jatiluhur.
Tujuan besarnya jelas:
* Menghimpun masukan real-time langsung dari lapangan.
* Menyamakan persepsi lintas instansi agar tidak terjadi tumpang tindih data.
* Membangun kesepahaman bersama dalam mengawal wilayah layanan irigasi yang menjadi urat nadi pertanian Karawang.
Perum Jasa Tirta II sengaja menggelar forum ini sebagai langkah konkret untuk mendukung pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) yang lebih terukur. Ketika pasokan air dari Waduk Jatiluhur didistribusikan berdasarkan data luasan sawah yang riil, maka efisiensi dan keadilan distribusi air bagi petani dapat terwujud.
Langkah kolaboratif ini membawa pesan optimistis. Di tengah laju modernisasi, Karawang membuktikan diri bahwa mereka tidak hanya ingin mempertahankan predikat sebagai lumbung padi nasional, tetapi juga ingin memimpin dengan tata kelola data pertanian yang modern, presisi, dan terintegrasi.
(Red).

0 Komentar