Sekretaris MUI Karawang: Agama Menjadi Sekat, Saat Jabatan Rawan Berkhianat

KH Yayan Sopian,S.Ag., Sekretaris MUI Kabupaten Karawang 

KARAWANG
 – Di balik megahnya gedung pemerintahan dan kilau fasilitas negara, terselip sebuah tanggung jawab yang beratnya melampaui gunung. Namun, realita seringkali berbicara lain. Kabar mengenai oknum pejabat yang terciduk "menilep" uang rakyat seolah menjadi menu sarapan harian yang pahit bagi masyarakat.


Menyikapi fenomena moral yang kian merosot ini, Redaksi berbincang hangat dengan Sekretaris MUI Kabupaten Karawang, KH Yayan Sopian, S.Ag. Sosok yang akrab disapa Kang Yayan ini tidak bicara dengan nada menghakimi, melainkan dengan nada peringatan yang mendalam. Baginya, solusi pemberantasan korupsi sudah ada dalam fondasi Islam yang fundamental: Amar Ma’ruf Nahi Munkar.


Bukan Sekadar Slogan, Tapi Perisai Kebijakan


"Amar Ma'ruf Nahi Munkar itu bukan hanya soal mengajak shalat atau menutup tempat maksiat. Dalam konteks pemerintahan, ini adalah etika dasar politik," ujar Kang Yayan membuka pembicaraan.


Secara lugas, beliau menjelaskan bahwa mengajak pada kebaikan (Amar Ma’ruf) dan mencegah keburukan (Nahi Munkar) adalah kewajiban fardu kifayah. Dalam sistem bernegara, pemerintah adalah pelaksana utamanya melalui kebijakan yang bersih, sementara rakyat menjadi pengawas yang mengingatkan dengan santun namun tegas.


Kang Yayan kemudian mengutip hadis populer untuk menyentil ego para pemangku kebijakan: 

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya" (HR. Bukhari).


"Pejabat itu bukan orang yang dilayani, tapi pelayan. Ingat, gaji dan fasilitas mereka itu berasal dari keringat petani, pajak pedagang kecil, hingga tetes peluh buruh di pabrik-pabrik. Lalu, apa jadinya kalau amanah itu justru dikorupsi?" tegasnya dengan tatapan tajam.


Bahaya Korupsi: Dari Hilangnya Kepercayaan Hingga Dosa Jariah

Korupsi dalam pandangan Islam bukan sekadar tindak pidana materi, melainkan "kemungkaran sosial" yang dampaknya sistemik. Kang Yayan merinci empat dampak mengerikan yang seharusnya membuat para koruptor bergidik:


1. Krisis Kepercayaan (Distrust): Saat pemimpin berkhianat, rakyat tak lagi bersandar. Negara melemah, dan umat pun terpecah.

2. Daging yang Tumbuh dari Harta Haram: Mengutip HR. At-Tirmidzi, Kang Yayan mengingatkan bahwa harta korupsi yang dipakai untuk memberi makan anak istri hanya akan menjadi bahan bakar api neraka.

3. Hidup yang Jauh dari Rahmat: "Laknat Allah itu nyata bagi penyuap dan penerima suap. Hidup mungkin terlihat kaya, tapi hati gelisah, tidur tak tenang karena tak ada berkah," jelasnya.

4. Dosa Jariah yang Terus Mengalir: Inilah yang paling mengerikan. Dana jalan yang disunat hingga mengakibatkan kecelakaan, atau anggaran rumah sakit yang dikorupsi hingga nyawa melayang, dosanya akan terus mengalir kepada si pejabat meski ia sudah pensiun atau bahkan saat sudah di dalam kubur.


Jalan Keluar: Integritas dan Kontrol Sosial

Lantas, bagaimana implementasi Amar Ma’ruf Nahi Munkar ini bisa meredam nafsu korupsi? Kang Yayan menawarkan beberapa langkah konkret:


* Pendidikan Nilai: Menanamkan 9 nilai antikorupsi—mulai dari jujur, sederhana, hingga berani—sebagai bentuk Amar Ma'ruf. 

* Kontrol Sosial Tanpa Kompromi: Masyarakat harus berani menegur dan melaporkan perilaku koruptif sebagai wujud Nahi Munkar.

* Sinergi Penegak Hukum & Tokoh Agama: Kolaborasi untuk membangun benteng etika dan moral di lingkungan birokrasi.


Namun, Kang Yayan memberi catatan penting. Pelaksanaan Nahi Munkar tidak boleh dilakukan dengan cara yang menimbulkan kekacauan lebih besar. Harus tetap mengedepankan wewenang hukum dan kesantunan.


"Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang efektif bukan hanya sekadar lisan yang menegur, tapi menanamkan nilai ke dalam jiwa, hingga korupsi dianggap sebagai perbuatan yang sangat memalukan dan menjijikkan," pungkas Kang Yayan menutup perbincangan.


Redaksi Majalah Perjuangan mencatat, jika setiap pejabat di negeri ini menanamkan rasa takut kepada Tuhan dan rasa malu kepada rakyat, maka regulasi seketat apa pun tak akan lagi diperlukan. Sebab, pengawas terbaik adalah hati nurani yang dibimbing oleh iman.***


0 Komentar