Rumah di Tepi Surga dan Diplomasi Jempol: Menyimak Teduh Pemikiran KH Yayan Sopian

KH.Yayan Sopian, S.Ag.


Oleh: Redaksi Majalah Perjuangan

 

JUM'AT sore itu, di Dusun Poponcol, Karawang Kulon, suasana terasa lebih tenang meski bising kendaraan sesekali menyelinap masuk. Di kediamannya, KH Yayan Sopian, S.Ag., menyambut kami dengan senyum khas yang meneduhkan. Pengasuh Majelis Dzikir Shidqotu Dhuha yang juga menjabat sebagai Sekretaris 1 MUI Karawang ini, dikenal sebagai sosok yang mampu membedah persoalan umat dengan bahasa yang membumi namun filosofis.

 

Obrolan kami mengalir pada satu titik krusial: riuh rendahnya jagat digital kita hari ini. Sebuah realitas di mana layar ponsel telah menjadi "medan laga" baru bagi ego manusia.

 

Kecepatan Jempol dan Kekosongan Hati

 

Kiai Yayan mengawali pembicaraan dengan sebuah refleksi yang tajam. Menurutnya, takwa di era modern bukan sekadar soal ruku dan sujud, melainkan soal pengendalian diri di depan layar.

 

"Kita hidup di zaman di mana jempol sering kali bergerak lebih cepat daripada hati," ujarnya pelan. Beliau memotret bagaimana kolom komentar kini berubah menjadi panggung pertaruhan harga diri. Di sana, kebenaran sering kali dikorbankan demi perasaan 'paling benar'.

 

Beliau menyebut fenomena ini sebagai jidal—debat kusir yang melelahkan. "Hasil akhirnya bukan solusi, tapi keruhnya suasana dan putusnya silaturahmi. Ini yang berbahaya," tambah Kiai Yayan sambil memperbaiki posisi duduknya.

 

Garis Tegas Antara Dialog dan Debat

 

Sebagai seorang ulama yang aktif di MUI, Kiai Yayan menekankan bahwa Islam sama sekali tidak anti-diskusi. Namun, ada garis api yang memisahkan antara mujadalah (dialog) yang sehat dan madzmumah (debat) yang tercela.

 

"Islam itu proporsional," jelasnya. "Ada ruang untuk berdiskusi jika niatnya tulus mencari kebenaran dengan ilmu dan tutur kata santun. Tapi jika debat itu lahir hanya untuk menjatuhkan lawan atau sekadar pamer intelektualitas tanpa substansi, itulah yang tercela."

 

Beliau kemudian mengutip sebuah janji Rasulullah SAW yang menurutnya sangat manusiawi sekaligus transenden. Sebuah hadits riwayat Abu Dawud tentang jaminan rumah di pinggir surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan, "meskipun dia benar."

 

"Menghindari debat saat kita salah adalah kewajiban moral. Namun, berhenti berdebat saat kita berada di pihak yang benar? Itulah kecerdasan spiritual tingkat tinggi," tegas Kiai Yayan.

 

Mekanisme Pertahanan Diri dan Pintu Hidayah

 

Kiai Yayan juga membedah psikologi di balik perselisihan verbal. Mengutip Surah An-Nahl ayat 125, beliau mengingatkan bahwa dakwah dan dialog harus dilakukan dengan hikmah dan mau'izhah hasanah.

 

"Kebenaran, seilmiah apa pun, akan sulit diterima jika disampaikan dengan cara yang merendahkan," katanya. Menurutnya, saat seseorang diserang secara verbal, mekanisme pertahanan dirinya akan otomatis bangkit. Di titik itulah, pintu hidayah tertutup.

 

Baginya, tidak ada gunanya memenangkan argumen jika hasilnya adalah kehilangan kawan atau menanam dendam di dunia nyata. "Apa gunanya 'skakmat' di dunia digital jika hati kita justru semakin jauh dari cahaya-Nya?" sebuah pertanyaan retoris yang membuat kami terdiam sejenak.

 

Diplomasi Hati di Tengah Polarisasi

 

Di akhir pertemuan, Kiai Yayan memberikan pesan penyejuk bagi umat, khususnya warga Karawang. Di tengah dunia yang semakin bising oleh polarisasi, beliau mengajak kita semua untuk menjadi pribadi yang mampu meredam api perselisihan.

 

"Ingatlah, kedamaian itu jauh lebih berharga daripada pengakuan intelektual," pesannya. Beliau menyarankan sebuah praktik sederhana namun berat: saat melihat perdebatan mulai mengarah pada caci maki, ingatlah janji rumah di tepi surga itu.

 

"Tarik napas dalam-dalam, tahan jempol kita, dan doakan saudara kita. Semoga Allah membimbing lisan dan jempol kita agar hanya mengeluarkan kata-kata yang mendinginkan hati dan mempererat ukhuwah," tutupnya menutup obrolan sore itu.

 

Kami meninggalkan Poponcol dengan satu kesimpulan penting: terkadang, kemenangan sejati bukan terletak pada kata terakhir yang kita lontarkan, melainkan pada kemampuan kita untuk memilih diam demi menjaga hati yang lain.***


0 Komentar