![]() |
| Gambar ilustrasi. |
Oleh: Redaksi Majalah Perjuangan
BANDUNG - Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (28/04) siang itu bukan sekadar saksi bisu sebuah seremoni korporasi. Di balik pintu Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank BJB, sebuah "bom" diledakkan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menarik tuas kejutan: Susi Pudjiastuti, sang "Srikandi Laut" yang dikenal tanpa kompromi, resmi didapuk menjadi Komisaris Utama Independen Bank BJB.
Ini bukan sekadar pengisian kursi kosong. Ini adalah pernyataan perang.
Integritas di Atas Kertas
Bagi KDM, menempatkan Susi di pucuk pengawasan bank daerah terbesar di Indonesia ini adalah soal harga diri dan integritas. “Saya merekomendasikan orang-orang yang memiliki integritas,” ujar KDM dengan nada yang tidak main-main.
Di tengah karut-marutnya dunia perbankan yang sering kali terjebak birokrasi kaku, sosok Susi dianggap sebagai "oase" sekaligus "polisi" yang mampu memberikan nasihat tajam langsung ke telinga pemegang saham pengendali.
Namun, publik tahu, Susi bukan tipe pejabat yang puas hanya dengan duduk manis di balik meja mahoni. Belum juga kering tinta SK pengangkatannya, ia sudah menebar ancaman bagi para "bajak laut" daratan.
Target Berikutnya: "Tenggelamkan" Pinjol!
Jika dulu targetnya adalah kapal-kapal asing pencuri ikan, kini moncong meriam Susi diarahkan ke praktik Pinjaman Online (Pinjol) ilegal yang mencekik leher rakyat Jawa Barat. Fakta di lapangan memang mengerikan: lebih dari separuh aktivitas pinjol di Jawa Barat ditengarai ilegal. Rakyat kecil, dari pedagang pasar hingga buruh pabrik, terjebak dalam lingkaran setan bunga setinggi langit.
"Sikat dan tenggelamkan!" teriak narasi yang dibawa Susi.
Ia tidak bicara soal angka statistik semata, tapi soal kemanusiaan. Susi melihat Pinjol ilegal sebagai predator yang memangsa kemiskinan. Baginya, Bank BJB tidak boleh hanya menjadi penonton atau sekadar mengejar dividen—yang tahun ini disepakati sebesar Rp900 miliar—tapi harus hadir sebagai perisai.
Melawan dengan Nurani
Visi Susi jelas: Bank BJB harus mengambil alih peran tersebut. Ia mendorong skema kredit yang lebih manusiawi, bunga rendah, dan akses yang tidak berbelit. Ia ingin membuktikan bahwa bank milik rakyat harus kembali ke rakyat.
"Ini tantangan besar," ungkapnya dengan gaya khas yang ceplas-ceplos namun berisi. Susi ingin mengubah stigma bank daerah yang sering dianggap kaku menjadi lembaga yang lincah dan berpihak pada kaum marjinal.
Era Baru Konglomerasi Keuangan
Penunjukan Susi terjadi saat Bank BJB tengah bertransformasi menjadi Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK). Dengan jajaran direksi baru di bawah pimpinan Direktur Utama Ayi Subarna, tantangan ke depan tidaklah ringan. Transformasi digital dan pemulihan rencana aksi (Recovery Plan) menanti untuk dieksekusi.
Namun, dengan kehadiran Susi di jajaran Komisaris, ada pesan kuat yang dikirimkan ke pasar dan masyarakat: Bank BJB tidak sedang bermain-main. Kini, warga Jawa Barat menunggu, akankah "Badai Susi" benar-benar mampu menenggelamkan para lintah darat digital dan membawa pelabuhan harapan bagi ekonomi kerakyatan?
Satu yang pasti, bagi mereka yang hobi mempermainkan nasib rakyat lewat pinjol ilegal, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai merasa cemas. Karena di Bandung, sang "Panglima" sudah bersiap dengan perintah harian: Tenggelamkan!
Susunan Baru Panglima Pakuan (Hasil RUPST 28 April 2026):
Dewan Komisaris:
* Komisaris Utama Independen: Susi Pudjiastuti
* Komisaris Independen: Novian Herodwijanto, Eydu Oktain Panjaitan
* Komisaris: Rudie Kusmayadi, Herman Suryatman, Tomsi Tohir
Direksi:
* Direktur Utama: Ayi Subarna
* Direktur Kepatuhan: Asep Dani Fadillah
* Direktur Keuangan: Hana Dartiwan
* Direktur Korporasi & UMKM: Mulyana
* Direktur Konsumer & Ritel: Nunung Suhartini
* Direktur TI: Muhammad As'a
di Budiman
* Direktur Operasional: Herfinia.

0 Komentar