![]() |
| Dr. H. Miftahussalam, M.Si. |
BANDUNG BARAT, (MP). – Dalam menjalani kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam pusaran keputusan yang keliru tanpa menyadari adanya "intervensi" halus yang mengarahkan mereka pada kerugian. Fenomena ini dibedah secara mendalam oleh Dr. H. Miftahussalam, M.Si., melalui program One Day One Tafsir Ayat, Rabu (8/4/2026).
Merujuk pada Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 119, Miftahussalam mengupas empat strategi sistematis yang digunakan setan untuk melumpuhkan nalar dan fitrah manusia. Narasi ayat ini bukan sekadar peringatan teologis, melainkan sebuah analisis psikologis mengenai bagaimana penyimpangan perilaku bermula.
Perwujudan Nyata: Bukan Hanya Jin
Satu poin krusial yang ditegaskan oleh Miftahussalam adalah mengenai sosok "setan" itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa setan tidak melulu identik dengan makhluk gaib atau jin. Merujuk pada Surah An-Nas ayat 5-6, ditegaskan bahwa pembisik kejahatan itu bisa datang dari golongan jin maupun manusia (minal jinnati wan-nas).
"Kita harus waspada karena 'setan' dalam bentuk manusia bisa berwujud teman pergaulan, ideologi yang menyimpang, atau lingkungan sosial yang secara nyata mengajak pada kerusakan. Strateginya sama, namun eksekusinya lebih kasat mata," jelasnya.
1. Disorientasi Kepercayaan
Strategi pertama adalah menciptakan disorientasi. Miftahussalam menjelaskan bahwa setan bekerja mengaburkan garis antara yang hak (benar) dan yang batil (salah). Setan tidak selalu mengajak pada kejahatan secara terang-terangan, namun sering kali mengaburkan petunjuk Allah agar manusia merasa berada di jalan yang benar, padahal sedang menempuh jalan yang tersesat.
2. Jebakan Angan-Angan Kosong
Strategi kedua adalah melalui amanī, atau angan-angan kosong. Dan perlu diperjelas bahwa setan yang memberikan angan angan kosong kepada manusia itu bisa setan berbentuk jin dan manusia sesuai dengan surat An-Nas ayat 5 & 6 yang membisikan kejahatan kedalam dada manusia itu dari golongan jin dan manusia. Dalam tafsirnya, dijelaskan bahwa setan memperdaya pikiran manusia dengan khayalan yang tidak realistis. Manusia digiring untuk memandang dunia sebagai satu-satunya kepastian, sementara kehidupan akhirat dianggap sebagai spekulasi yang meragukan. Efeknya, manusia menjadi hedonis dan menghalalkan segala cara demi mengejar "kebahagiaan" yang sebenarnya semu.
3. Merusak Tatanan Hukum (Halal-Haram)
Miftahussalam juga menyoroti bagaimana setan—baik dari golongan jin maupun manusia—masuk ke dalam ranah aturan hidup. Merujuk pada tradisi Arab Jahiliah yang memanipulasi fisik binatang ternak sebagai simbol persembahan, ia menekankan bahwa ini adalah bentuk manipulasi hukum. "Setan bekerja dengan membolak-balikkan logika. Yang halal dianggap tabu, dan yang haram justru dipandang sebagai sebuah kebutuhan atau kewajaran," tambahnya.
4. Melawan Fitrah Penciptaan
Poin terakhir adalah upaya mengubah ciptaan Allah (taghyir Khalifah). Secara maknawi, para mufasir menekankan bahwa yang diubah adalah fitrah agama. Manusia sejatinya lahir dengan naluri tauhid. Namun, pengaruh lingkungan—termasuk godaan dari sesama manusia yang berperan sebagai perpanjangan tangan setan—sering kali melenyapkan naluri murni tersebut.
Miftahussalam mengutip sebuah hadis qudsi yang menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lurus (hunafa), namun setanlah yang datang memalingkan mereka dari agama aslinya.
"Siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka ia telah menderita kerugian yang nyata."
Sebagai penutup, Miftahussalam mengingatkan bahwa memahami strategi lawan—baik yang tampak maupun yang gaib—adalah langkah pertama untuk tetap konsisten berjalan di atas fitrah kemanusiaan yang lurus.
Analisis Tafsir: Dr. H. Miftahussalam, M.Si.
Sumber: Tafsir Tahlili Kemenag RI & Refleksi Surah An-Nas.

0 Komentar