![]() |
| Gambar ilustrasi. |
Oleh: Redaksi Majalah Perjuangan
PURWAKARTA – Di tengah deru mesin dan kepulan asap industri genteng yang melegenda di kawasan Citeko, Plered, Purwakarta, terselip sebuah kisah inspiratif tentang kegigihan seorang perempuan muda dalam menjemput rezeki. Belum lama ini, redaksi Majalah Perjuangan berkesempatan menyambangi kediaman Nuri Amalia—atau yang akrab disapa Teh Nuri—di Jalan Raya Citeko, Plered, Purwakarta.
Bukan sekadar kunjungan biasa, pertemuan ini membuka mata kita bahwa peluang bisnis seringkali lahir dari kesederhanaan dan kejelian melihat kebutuhan masyarakat.
Multitasking: Antara Ruang Kelas dan Dapur Kuliner
Teh Nuri adalah sosok yang tidak bisa diam. Sosoknya mencerminkan semangat "Perjuangan" yang sesungguhnya. Di pagi hari, ia adalah pendidik yang penuh kasih di sebuah Raudhatul Athfal (RA/TK). Setelah selesai menunaikan tugas mencerdaskan anak bangsa dan mengurus keperluan keluarga, ia langsung "tancap gas" di dapur kuliner miliknya.
Menariknya, di saat banyak orang beralih ke makanan cepat saji yang serba digoreng, Teh Nuri justru konsisten mengusung konsep panganan lokal berbasis kukusan. Bahkan tersedia juga paket spesial yakni Kukusan Tampah, atau Kukusan Tumpeng yang beralaskan daun pisang.
"Saya ingin membantu menyediakan sarapan yang praktis, tinggi serat, namun rendah lemak. Harganya pun sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp10.000 saja per porsinya," ungkap Teh Nuri sembari menyusun menu pesanan pelanggan.
Tak heran bila usaha kuliner CIKU CIKU KUKUSAN yang ditekuni Teh Nuri mudah diterima oleh semua kalangan, mulai dari Pengusaha, Perusahaan BUMN seperti PJB PLTA Cirata, jajaran Direksi Perusahaan Swasta, hingga kalangan milenial dan Gen Z.
Menu Lokal, Kualitas Global
Etalase jualan online-nya dipenuhi dengan varietas karbohidrat sehat: ubi ungu, ubi kuning, ubi putih, jagung, singkong, pisang, talas, hingga labu. Tak lupa, ia menambahkan protein dari kacang rebus dan telur rebus.
Menu-menu "ndeso" ini nyatanya menjadi primadona bagi pekerja industri dan masyarakat perkotaan yang mulai sadar akan pentingnya gaya hidup sehat.
Bagi Teh Nuri, jualan kukusan bukan sekadar bisnis recehan, melainkan ide bisnis menjanjikan yang modalnya minim namun manfaatnya maksimal.
Resep Sukses: Tak Sekadar Merebus
Kepada Majalah Perjuangan, Teh Nuri membocorkan empat pilar utama yang membuatnya bertahan di pasar kuliner digital:
1. Kualitas Bahan: Kesegaran ubi dan jagung adalah harga mati agar rasa alami tetap terjaga.
2. Standar Kebersihan: Proses pengukusan hingga pengemasan harus higienis untuk menjaga kepercayaan pembeli.
3. Variasi Menu: Memadukan sumber serat dengan protein (telur dan kacang) agar nutrisi seimbang.
4. Pemasaran Digital: Memaksimalkan media sosial untuk menjangkau pelanggan di area populer.
Layanan Terbaik dari Citeko
Menutup perbincangan yang hangat di tengah kepulan uap kukusan yang wangi, membuat perut Redaksi meronta-ronta, Teh Nuri mengajak siapapun yang ingin mencicipi atau sekadar berdiskusi tentang kuliner sehat untuk menyapanya di dunia maya.
"Silakan bagi yang tertarik, bisa kunjungi Facebook Nuri Amalia Hena Art, dengan nomor layanan pesanan 081912506890.Kami siap memberikan layanan yang terbaik," pungkasnya dengan senyum optimis.
Kisah Teh Nuri adalah bukti nyata bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang untuk berdaya secara ekonomi. Dari tangan seorang guru TK di sudut Plered ini, kita belajar bahwa kesehatan bisa dijual, dan tradisi bisa dikemas secara modern. ***

0 Komentar