
SMAN 5 Karawang.
KARAWANG – SMAN 5 Karawang tengah bersiap mengganti kulit. Tak tanggung-tanggung, julukan "Sekolah Maung" kini disandang. Sebuah identitas yang menyiratkan kegagahan, kompetensi tinggi, dan seleksi ketat. Konon, hanya mereka yang lolos verifikasi akademik dan non-akademik berstandar tinggi yang bisa masuk ke kandang "Maung" ini.
Namun, di balik auman prestasi yang dijanjikan, terselip sebuah tanya besar: Apakah kegagahan ini sejalan dengan transparansi anggaran? Ataukah "Maung" yang satu ini justru malu-malu menunjukkan isi "dapur"-nya?
![]() |
| Kepala SMAN 5 Karawang, Dr. Epul Saepul, M.Pd. |
Aturan Adalah Panglima
Tokoh masyarakat dan pemerhati pendidikan mengingatkan, predikat sekolah unggulan bukan sekadar label keren di papan nama. Sesuai Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021, penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) haruslah terbuka. Sekolah unggulan semestinya menjadi kompas bagi sekolah lain, terutama dalam hal akuntabilitas publik.
"Sekolah unggulan harus memberi contoh. Pasang papan informasi publik terkait penggunaan dana BOS. Jangan biarkan orang tua siswa dan publik hanya bisa menerka-nerka," tegas salah satu tokoh masyarakat kepada Majalah Perjuangan.
"Buka Saja Jaga KPK"
Saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (30/4), Kepala SMAN 5 Karawang, Dr. Epul Saepul, M.Pd., tampak santai menanggapi isu transparansi ini. Baginya, urusan keterbukaan informasi sudah tuntas melalui jalur digital.
Ia menunjuk aplikasi "Jaga KPK" sebagai wadah resmi laporan keuangan sekolahnya. Mulai dari biaya pemeliharaan bulanan, honor guru, hingga urusan ATK, semua diklaim sudah terekam di sana.
"Kalau wartawan ingin tahu, tinggal buka saja aplikasi Jaga KPK itu. Pasti muncul. Sekarang kan zaman digital, tinggal klik," cetus Dr Epul dengan nada praktis.
Alasan Klasik: Takut Kamera?
Namun, ada satu pernyataan Dr Epul yang menarik perhatian sekaligus mengundang kerutan dahi. Saat ditanya mengapa sekolah tidak memasang papan informasi di area fisik sekolah—sebagaimana lazimnya bentuk transparansi publik—ia memberikan alasan yang cukup "unik".
Ia khawatir jika papan informasi dipajang di halaman sekolah, akan banyak wartawan yang datang hanya untuk memotret papan tersebut. Entah apa yang membuat aktivitas memotret papan informasi menjadi sebuah kekhawatiran bagi pihak sekolah.
CATATAN REDAKSI:
Menjadi "Sekolah Maung" berarti harus berani menghadapi terang benderangnya cahaya transparansi. Jika memang pengelolaan dana BOS sudah sesuai jalur dan bersih tanpa noda, lantas mengapa harus alergi dengan jepretan kamera wartawan di papan pengumuman?
Dunia memang sudah digital, tapi keterbukaan di lapangan adalah bukti integritas yang tak bisa digantikan oleh sekadar klik di aplikasi. Bukankah Maung yang sejati tak akan takut memperlihatkan belangnya? Jangan sampai slogan "Maung" hanya gagah di atas kertas, tapi "kucing-kucingan" soal anggaran.
Penulis: Hamid
Editor: Redaksi Majalah Perjuangan

0 Komentar