Haramkan Pungli di Sekolah, Bupati Karawang: "Gaji Sudah Jelas, Fokus Urus Siswa!"


KARAWANG, (MP).
– Matahari Jumat (24/6/2026) pagi di Plaza Pemda Karawang terasa lebih menyengat bagi 199 kepala sekolah yang baru saja mengucap sumpah. Di balik setelan rapi dan senyum syukur, ada beban berat yang langsung diletakkan di pundak mereka. Bukan sekadar urusan manajerial, melainkan sebuah peringatan keras tentang integritas: Jangan main-main dengan uang rakyat.


Pelantikan ini merupakan babak lanjutan dari agenda serupa pada April lalu. Sebanyak 191 kepala SD dan 9 kepala SMP resmi memegang kendali di satuan pendidikan masing-masing. Namun, alih-alih hanya berisi ucapan selamat yang normatif, pidato Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, justru menjadi "sinyal merah" bagi siapa pun yang berniat mencari keuntungan pribadi di lingkungan sekolah.


Zalim Jika Dana BOS "Disunat"

Isu transparansi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menjadi menu utama dalam arahan Bupati. Dengan nada lugas dan tanpa basa-basi, Aep menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah adalah amanah publik, bukan ladang bisnis.


 “Jangan sampai ada penyimpangan dana BOS. Jangan zalim. Gunakan sepenuhnya untuk kepentingan sekolah dan kemajuan pendidikan,” tegas Aep di hadapan barisan pelantikan.


Istilah "zalim" yang dilontarkan Bupati bukan tanpa alasan. Dana BOS adalah urat nadi operasional pendidikan bagi siswa. Jika anggaran ini bocor, maka hak-hak dasar siswa untuk mendapatkan fasilitas belajar yang layak dipastikan akan terkorbankan.


Gaji dan TPP: Tak Ada Lagi Alasan "Kurang"

Redaksi mencatat poin menarik dari pidato Bupati yang menyinggung soal kesejahteraan. Pemerintah Kabupaten Karawang mengklaim telah memberikan perhatian serius terhadap "dapur" para pendidik. Dari gaji pokok hingga Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang trennya terus merangkak naik.


Secara logika, peningkatan kesejahteraan ini seharusnya menutup pintu godaan untuk melakukan praktik korup. Dengan kantong yang sudah cukup terisi oleh negara, tidak ada lagi pembenaran moral bagi seorang kepala sekolah untuk melirik—apalagi menyikat—anggaran pendidikan.


“Gaji sudah jelas, TPP juga meningkat. Sekarang tugas utama adalah menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman,” lanjutnya, mengingatkan bahwa fokus kepemimpinan harus beralih pada kualitas layanan, bukan lagi soal urusan perut.


Hantu Pungli yang Belum Sirna

Selain dana BOS, bayang-bayang pungutan liar (pungli) juga menjadi catatan krusial. Bupati mengingatkan agar sekolah tidak lagi menjadi tempat yang membebani orang tua siswa dengan pungutan-pungutan "kreatif" yang tidak memiliki dasar hukum.


Kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan saat ini sedang diuji. Profesionalisme dan transparansi adalah satu-satunya cara untuk memulihkan marwah sekolah sebagai kawah candradimuka generasi bangsa, bukan sebagai instansi yang hobi "memalak" wali murid.


Catatan Kritis: Konsistensi Pasca-Pelantikan

Pelantikan ratusan kepala sekolah ini memang langkah strategis untuk memperkuat SDM di Karawang. Namun, pidato tegas di Plaza Pemda hanyalah permulaan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mekanisme pengawasan di lapangan dilakukan setelah seremoni ini usai.


Rakyat Karawang tentu tidak butuh sekadar janji manis di podium. Masyarakat menanti bukti nyata: apakah sekolah-sekolah di Karawang benar-benar akan bersih dari pungli? Dan apakah dana BOS akan benar-benar berubah menjadi fasilitas kelas yang nyaman dan buku-buku yang lengkap?


Kursi kepala sekolah kini bukan lagi sekadar posisi administratif yang nyaman, melainkan "kursi panas" yang diawasi langsung oleh mata publik dan ketegasan regulasi. Jangan sampai, pelantikan hari ini hanya menjadi siklus birokrasi tanpa perubahan esensi.


Laporan: Hamid

Editor: Ahmad Hasan S.



0 Komentar