Kang Asep Ibe: Peta Musim Tanam, Ikhtiar DPKPP Menjaga "Lumbung Padi" Karawang

Peta Masa Tanam Padi, langkah preventif dan inovatif dalam menjaga Ketahanan Pangan di Kabupaten Karawang.

KARAWANG, (MP). 
— Julukan Kabupaten Karawang sebagai lumbung padi nasional kini tengah diuji oleh ketidakpastian iklim dan dinamika global. Di tengah ancaman kekeringan yang mulai membayangi beberapa wilayah, muncul desakan agar Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) tidak lagi bekerja dengan pola "pemadam kebakaran".


Anggota DPRD Karawang dari Partai Golkar, H. Asep Syaripudin, S.T., M.M., atau yang akrab disapa Kang Asep Ibe, menekankan pentingnya transparansi data melalui pembuatan Peta Masa Tanam Padi. Baginya, peta ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen krusial untuk memantau kebutuhan petani secara presisi di setiap wilayah.


Presisi Data, Kunci Ketahanan Pangan

Asep Ibe menilai, dengan adanya peta masa tanam, DPKPP dapat melakukan intervensi yang tepat sasaran. Masalah klasik seperti kelangkaan bibit unggul hingga distribusi pupuk yang kerap tersendat diharapkan bisa dimitigasi sejak dini.


Redaksi Majalah Perjuangan saat bincang bincang dengan Kang Asep Ibe, di Dusun Cilempuk, Desa Purwamekar.


"Ketika petani mulai mengolah lahan, DPKPP sudah harus tahu berapa kebutuhan bibit dan memastikan pasokan air tersedia. Jangan sampai petani sudah siap, tapi sarana pendukungnya justru belum ada," ujar  Kang Asep Ibe saat ditemui di Dusun Cilempuk, Desa Purwamekar, Rawamerta, Jumat (24/4).


Lebih jauh, ia menyoroti infrastruktur irigasi yang menjadi urat nadi pertanian Karawang. Menurutnya, pemetaan yang baik memungkinkan pemerintah mendeteksi pendangkalan saluran air lebih awal sehingga normalisasi dengan alat berat bisa dilakukan sebelum masa tanam tiba.


Solusi Inovatif di Tengah Krisis Global

Menariknya, Kang Asep Ibe juga mendorong pemerintah daerah untuk mulai melirik energi terbarukan sebagai solusi irigasi. Mengingat gejolak harga BBM yang kerap terdampak ketegangan geopolitik—seperti konflik Israel dan Iran—penggunaan pompa air bertenaga surya dianggap sebagai solusi jangka panjang yang paling masuk akal.


Usulan ini bukan tanpa alasan. Memasuki musim tanam gadu pada Mei-Juni 2026, sejumlah titik di Kecamatan Rawamerta, seperti Dusun Margasalam (Desa Pasirawi) dan Dusun Garunggung (Desa Panyingkiran), dilaporkan mulai mengalami defisit pasokan air.


* Lokasi Rawan Kekeringan: Dusun Margasalam & Dusun Garunggung.

* Target Intervensi: Pembangunan sumur satelit dan pompa tenaga surya.

* Tujuan: Memastikan sawah tadah hujan (tegalan) tetap produktif meski pasokan air permukaan minim.


Jerit Petani di Akar Rumput

Senada dengan legislatif, para petani di lapangan mulai merasa was-was. H. Darman, seorang petani di Dusun Margasalam, mengakui bahwa fenomena sawah "tegalan" yang kekurangan air sudah menjadi momok menahun.


"Kami sangat berharap Pemkab Karawang turun tangan. Bantuan sumur bor dengan sistem tenaga surya atau mesin satelit sangat kami butuhkan untuk menjaga produksi padi tetap stabil," ungkap Darman saat ditemui di Desa Pasirawi.


Kini, bola panas ada di tangan DPKPP Karawang. Akankah pemerintah daerah berani melakukan lompatan dengan digitalisasi peta tanam dan modernisasi alat irigasi, ataukah Karawang harus rela melihat produktivitas padinya perlahan tergerus oleh keterlambatan antisipasi?


Di tengah ambisi swasembada pangan, langkah konkret di lapangan jauh lebih dinanti daripada sekadar angka-angka di atas kertas.


Laporan: Hamid

Editor: Ahmad Hasan S.


0 Komentar