
KH. Yayan Sopian, S.Ag Pengasuh Majelis Dzikir Shidqotu Dhuha, lingkungan Dusun Poponcol Kidul, Kelurahan Karawang Kulon, Karawang Barat.
KARAWANG , (MP). — Di sebuah sudut Majelis Dzikir Shidqotu Dhuha, lingkungan Dusun Poponcol Kidul, Kelurahan Karawang Kulon, suasana petang Kamis (19/03/2026) terasa berbeda. Di tengah riuh rendah suara santri dan aroma hidangan berbuka yang mulai tercium, KH. Yayan Sopian, S.Ag, pengasuh pondok pesantren setempat, duduk bersila dengan tenang.
Namun, ketenangan itu seketika pecah oleh sebuah pemikiran tajam yang beliau sampaikan. Bukan sekadar tausiyah normatif, Kyai Yayan membedah mekanisme sedekah dengan kacamata yang provokatif namun logis: Spiritual Capitalism.
"Tangan di atas memang lebih baik dari tangan di bawah. Itu hadisnya. Tapi tahukah kita bahwa zakat dan sedekah itu sebenarnya adalah sistem kapitalis dunia yang bekerja secara spiritual?" ujarnya memulai perbincangan.
Hukum Ekonomi Global dalam Ibadah
Bagi sebagian orang, kata "kapitalisme" kerap memicu alergi—identik dengan penindasan dan jurang si kaya-si miskin. Namun, Kyai Yayan melihatnya dari sudut pandang hukum ekonomi global. Dalam semesta ini, ada hukum yang tidak bisa ditawar: yang besar akan makin besar, yang produktif akan makin tumbuh.
"Energi kaya itu diperoleh dari 'membayar'. Saat Anda membayar rokok, Anda punya hak atas materi rokok. Saat Anda membayar zakat dan sedekah, Anda sedang membangun aset energi kekayaan," jelasnya.
Menurut beliau, kemiskinan seringkali berakar dari ketidakmampuan untuk 'membayar'. Bukan hanya soal membeli barang mewah, bahkan untuk nafkah primer pun sulit. Sebaliknya, posisi 'menerima bayaran' atau menerima pemberian justru mengandung risiko kehilangan.
"Saat Anda menerima gaji, Anda kehilangan waktu dan tenaga. Saat Anda terus-menerus menerima gratisan dan sedekah, ada 'harga' yang harus dibayar oleh alam secara paksa: bisa berupa hilangnya wibawa, ketenangan hati, hingga kesehatan," tambahnya dengan nada mendalam.
Analogi Alam: Si Besar yang Makin Besar
Kyai Yayan kemudian mengajak kita menoleh ke alam terbuka. Fenomena ini, menurutnya, terlihat jelas pada pertumbuhan makhluk hidup.
"Amati batang tanaman. Yang sudah terlanjur besar akan semakin subur dan raksasa, sementara yang kecil seringkali tertutup bayangan dan stuck di situ saja. Begitu juga bibit lele di kolam; meski disebar bersamaan dengan ukuran sama, saat panen pasti ada yang tumbuh raksasa sementara yang lain tetap buncit. Itu adalah the capital mechanism di dunia hewan dan tumbuhan."
Dalam konteks spiritual, hal serupa terjadi. Tidak ada satu pun dalil, baik ayat maupun hadis, yang menjanjikan bahwa "menerima sedekah akan menggandakan kekayaan." Yang ada justru sebaliknya: sedekah satu kali akan kembali 10 hingga 100 kali lipat bagi si pemberi.
"Lihat saja para crazy rich yang hobi open house Lebaran atau menyembelih sapi terbesar saat Iduladha. Apakah mereka jatuh miskin? Tidak. Mereka makin kaya karena mereka adalah subjek yang 'membayar'. Sementara kaum dhuafa yang menerima, statusnya seringkali tetap utuh sebagai fakir miskin jika hanya mengandalkan pemberian tanpa produktivitas."
Memutus Rantai Tangan di Bawah
Di akhir perbincangan yang penuh hikmah tersebut, KH. Yayan memberikan catatan penutup yang menohok sanubari. Pesan ini menjadi refleksi bagi siapa saja yang masih merasa nyaman dengan bantuan dan skema gratisan.
"Kalau hobi Anda masih menengadahkan tangan demi gratisan, jangan heran kalau hidup Anda cuma jalan di tempat," tegasnya.
Beliau menekankan bahwa alam semesta tidak dirancang untuk memberikan kekayaan pada tangan yang terbuka untuk meminta, melainkan pada tangan yang mengepal kuat untuk berani membayar dan memberi. Sebuah tamparan spiritual yang menyadarkan bahwa menjadi kaya bukan sekadar soal angka di rekening, melainkan soal mentalitas dan keberanian untuk membuang energi 'penerima' dan menjadi 'pemberi'.***
Editor: Ahmad Hasan S.
0 Komentar