
Kiri: Pimred Majalah Perjuangan bersama KH. Yayan Sopian,S.Ag.
Karawang, (MP).– Di sebuah sudut pondok pesantren lingkungan Poponcol, Kelurahan Karawang Kulon, dengan suasana yang sejuk dan tenang, di sela riuh rendah lantunan ayat suci para santri, KH. Yayan Sopian, S.Ag. duduk tenang. Pimpinan pesantren ini menyambut kami dengan senyum teduh. Sore itu, kami berbincang mengenai makna di balik ritual tahunan yang dijalani miliaran umat manusia: Ramadhan dan Idul Fitri.
Bagi Kyai Yayan, Ramadhan bukanlah sekadar perpindahan jadwal makan atau ritual menahan dahaga di bawah terik matahari Karawang. Ia menyebutnya sebagai "Madrasah Ruhani"—sebuah sekolah jiwa yang tanpa kurikulum tertulis, namun ujiannya ada di setiap detik detak jantung.
Kejujuran dalam Sunyi
"Apa sebenarnya inti dari puasa?" tanya kami membuka percakapan.
Beliau terdiam sejenak, lalu menjawab pelan namun mantap. "Kejujuran. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang paling rahasia antara hamba dan Sang Pencipta. Seseorang bisa saja masuk ke kamar yang gelap, minum segelas air, lalu keluar seolah masih berpuasa. Tak ada manusia yang tahu. Tapi ia memilih tidak melakukannya. Mengapa? Karena ia sadar ada pengawasan mutlak dari Allah."
Menurut Kyai Yayan, kejujuran inilah yang harus dibawa ke ranah publik. Jika seorang Muslim bisa jujur saat sendirian menahan lapar, seharusnya ia juga jujur saat memegang amanah jabatan atau pekerjaan. "Amanah sebagai abdi negara atau pelayan masyarakat itu hakikatnya adalah 'puasa' dari mengambil yang bukan haknya," tambahnya.
Empati yang Membumi
Percakapan beralih pada fenomena sosial. Ramadhan sering kali menjadi momen di mana kedermawanan meningkat tajam. Kyai Yayan melihat hal ini sebagai kristalisasi dari rasa lapar yang dialami bersama.
"Puasa itu menyamakan rasa. Perut yang lapar tidak mengenal kasta. Si kaya dipaksa merasakan perih yang mungkin setiap hari dirasakan oleh tetangganya yang kekurangan," jelas beliau.
Bagi beliau, kesalehan sejati tidak berhenti di atas sajadah. Keberkahan Ramadhan baru teruji saat tangan kita lebih ringan terulur untuk membantu saudara atau tetangga yang kesulitan. "Jangan sampai kita kenyang sendirian sementara tetangga kita hanya berbuka dengan air putih karena tak ada lagi yang bisa dimasak. Itulah dosa sosial yang sering kita lupakan."
Idul Fitri: Menang Atas Diri Sendiri
Lantas, bagaimana dengan Idul Fitri? Apakah itu sekadar baju baru dan hidangan lezat di meja makan?
Kyai Yayan menggeleng perlahan. "Idul Fitri adalah simbol kemenangan 'Fitrah'. Kata Fitri itu suci, kembali ke asal. Setelah sebulan penuh ego kita dihancurkan, nafsu kita dikandangi, maka kita kembali menjadi manusia yang bersih."
Beliau menekankan bahwa Idul Fitri adalah momen rekonsiliasi total. Saling memaafkan bukan sekadar formalitas ucapan, melainkan upaya menghapus sekat-sekat benci dan dendam. Kemenangan sejati menurut beliau adalah saat seseorang mampu menundukkan egonya untuk meminta maaf dan memberi maaf.
Pesan untuk Ummat
Menutup perbincangan, KH. Yayan Sopian menitipkan sebuah pesan mendalam bagi seluruh umat Islam yang merayakan kemenangan.
"Ramadhan itu masa menanam benih ketakwaan. Idul Fitri adalah saat kita merawat tunas kebaikan itu. Jangan sampai setelah bulan suci berlalu, kejujuran dan kepedulian kita ikut memudar. Jadilah 'manusia Ramadhan' di sepanjang tahun, yang jujur dalam bekerja dan lembut hatinya kepada sesama," pungkasnya.
Kami meninggalkan pesantren sore itu dengan sebuah perenungan baru: bahwa kemenangan yang sesungguhnya bukanlah saat kita merayakan hari raya, melainkan saat kita berhasil menjadi manusia yang lebih manusiawi.***
Editor: Ahmad Hasan S.
0 Komentar