Dunia Tidak Lagi Sederhana: Visi Pendidikan dan Ketangkasan Kreatif ala Sambas

Kiri: Ahmad Hasan S Pimred Majalah Perjuangan saat bincang bincang dengan Sambas,S.Pd pengelola Taman Mandar.

KARAWANG, (MP).
- Dunia yang kita huni hari ini tak lagi memberikan jaminan bagi mereka yang hanya diam dalam satu tempurung keahlian. Ada sebuah mitos lama yang perlahan gugur; bahwa masa depan hanya milik mereka yang menggali satu lubang sedalam mungkin. Kenyataannya, perubahan zaman yang berlari kencang kerap meninggalkan mereka yang terlalu kaku untuk menoleh ke samping. 


Di sudut Kampung Kalen Asem, Desa Pagadungan, Kecamatan Tempuran, sebuah obyek wisata alam yang asri, di atas lahan satu hektar yang disulap menjadi harmoni fungsional, saya berbincang dengan Sambas, S.Pd. Ia bukan sekadar pengelola; ia adalah personifikasi dari apa yang kita sebut sebagai "manusia hibrida."


Titik Temu Edukasi dan Rekreasi

Sambas bukan sekadar pemilik lahan atau pengelola gerbang tiket. Gelar sarjana pendidikan di belakang namanya bukan sekadar ornamen administratif. Di tangannya, disiplin ilmu pedagogi bertemu dengan manajemen pariwisata yang taktis. Ia tidak sedang mempraktikkan satu ilmu tunggal, melainkan merajut berbagai keterampilan menjadi sebuah narasi ekonomi kreatif yang hidup.


Lahan satu hektar itu adalah manifestasi dari pemikirannya yang multisektoral. Di satu sudut, terdapat taman satwa burung yang menawarkan kicauan alami—sebuah laboratorium hidup bagi pengunjung untuk mengenal fauna. Tak jauh dari sana, kolam renang mini menjadi ruang ceria bagi anak-anak, sementara cafe & resto serta gazebo menjadi tempat keluarga meluruhkan penat. Semua elemen ini tidak berdiri sendiri; mereka adalah titik-titik yang dihubungkan oleh satu benang merah: kenyamanan yang terintegrasi.


Kreativitas sebagai Jembatan Koneksi

Dalam obrolan yang hangat di bawah naungan pepohonan, satu hal yang tersirat jelas: bagi Sambas, belajar keterampilan baru bukanlah soal menambah baris dalam kurikulum vitae. Ini adalah soal memperluas cakrawala berpikir. 


"Dunia tidak lagi sesederhana itu," bisik angin di sela pembicaraan kami. Seseorang yang terbiasa mencoba hal-hal baru akan memiliki otot mental yang lebih lentur. Sambas memperlihatkan bahwa kreativitas sejati bukanlah menciptakan sesuatu dari ketiadaan (ex nihilo). Kreativitas adalah keberanian untuk menghubungkan titik-titik yang bagi orang lain terlihat tak berkaitan. 


Ia menghubungkan keramah-tamahan (hospitality) dengan ketegasan dalam menjaga etika lingkungan. Fasilitas toilet dan mushola yang bersih dan representatif bukan sekadar pelengkap, melainkan pesan kuat tentang standar integritas pelayanan. Di sinilah ia menanamkan nilai kepada timnya: kekompakan untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan indah adalah fondasi dari bisnis pariwisata yang berkelanjutan.


Keberanian untuk Tidak Sempurna

Satu pelajaran berharga dari refleksi perjalanan Sambas adalah keberanian untuk belajar banyak hal tanpa terbebani tuntutan untuk langsung menjadi sempurna di segalanya. Banyak orang terjebak dalam kelumpuhan analisis karena merasa belum ahli. Padahal, ketahanan (resilience) di masa depan dimiliki oleh mereka yang tahu bagaimana menggunakan beragam kemampuan dalam situasi yang berbeda-beda.


Di tengah ketidakpastian zaman, Sambas membuktikan bahwa seorang pendidik bisa menjadi arsitek lanskap, seorang pengusaha bisa menjadi pelestari alam, dan seorang pemimpin bisa menjadi pelayan masyarakat. 


Masa depan, pada akhirnya, bukan milik mereka yang paling pintar secara akademis atau yang paling cepat berlari. Masa depan adalah milik mereka yang tetap memiliki rasa ingin tahu seperti anak kecil—yang berani bereksperimen, dan cukup tangguh untuk menggabungkan potongan pengalaman menjadi sebuah mahakarya. Dari Sambas, kita belajar bahwa mengelola wisata bukan sekadar menjual pemandangan, melainkan mengelola gagasan dan menjaga martabat alam.***


Editor: Ahmad Hasan S.


0 Komentar