
Gedung SD negeri Balongsari 1.
Karawang, MajalahPerjuangan.com — Bagi H. Adih, S.Pd., bunyi derit kayu dari langit-langit ruang kelas bukan sekadar gangguan bising. Itu adalah alarm kecemasan yang ia dengar setiap hari selama dua tahun terakhir. Namun, Senin (2/2/2026) pagi, kecemasan itu sedikit luruh berganti harapan.
Tepat pukul 10.00 WIB, Kepala SDN Balongsari 1 itu kedatangan tamu yang sudah lama dinanti: Tim Survei Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang. Kedatangan mereka bukan tanpa alasan. Setelah kondisi sekolah yang memprihatinkan ini tersiar di ruang publik, birokrasi yang sebelumnya terasa lamban tiba-tiba bergerak cepat.
![]() |
| Atap gedung yang nyaris ambruk. |
"Alhamdulillah, saya kaget sekaligus bahagia. Atas perintah langsung Kepala Disdikbud Karawang, tim langsung turun menghitung kerusakan," ujar Adih saat ditemui di ruang kerjanya.
Ironi di Ruang Belajar
SDN Balongsari 1 yang terletak di Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, adalah potret buram fasilitas pendidikan yang tertinggal oleh waktu. Bangunan berbentuk huruf "L" itu kini tampak ringkih. Rangka atapnya sudah lapuk dimakan usia, sementara plafonnya bolong di sana-sini—seperti menganga menunggu waktu untuk jatuh.
![]() |
| Adih, S. Pd Kepala SDN Balongsari 1 |
Di balik tembok-tembok yang mulai retak itu, ada rasa was-was yang menghantui para orang tua siswa. Setiap kali langit Karawang menghitam dan angin kencang menerjang, jantung para orang tua berdegup kencang. Mereka tak takut anak-anak mereka sulit memahami pelajaran, mereka lebih takut jika atap sekolah tiba-tiba ambruk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
"Apalagi kalau musim hujan. Bayangan kayu rangka plafon jatuh menimpa anak-anak itu selalu ada," ungkap Adih getir.
Menanti Janji Menjadi Bukti
Gerak cepat tim survei hari ini memang membawa angin segar, namun sekaligus menyisakan catatan kritis: *mengapa harus menunggu viral untuk bergerak?* Pendidikan yang aman seharusnya menjadi hak dasar, bukan hasil dari sebuah tekanan publik.
Kini, bola ada di tangan Pemerintah Kabupaten Karawang. Kehadiran Bapak Ujang dari tim survei dan Ibu Hj. Popon selaku Korwilcambidik di lokasi diharapkan bukan sekadar seremoni "hitung-menghitung" belaka.
Tahun 2026 diharapkan menjadi titik balik bagi SDN Balongsari 1. Siswa-siswi di Rawamerta tidak butuh janji di atas kertas; mereka butuh atap yang kokoh untuk menaungi mimpi-mimpi mereka agar bisa belajar dengan nyaman, tanpa perlu sesekali melirik ke atas karena takut tertimpa kayu lapuk.***
Laporan: Hamid
Editor: Ahmad Hasan S.


0 Komentar