Gandeng LPK Yutaka, DPKPP Karawang Siapkan Generasi "Petani Rasa Sakura"

Kepala DPKPP Kab. Karawang, Drs. Rohman, M.Si. 

Karawang, MajalahPerjuangan.com 
 – Matahari tepat berada di atas kepala saat hamparan hijau di "Lumbung Padi Nasional" Karawang bergoyang ditiup angin. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan sebuah kegelisahan yang nyata: siapa yang akan menjaga sawah-sawah ini sepuluh atau dua puluh tahun ke depan?


Selama berdekade, profesi petani di Karawang seolah menjadi "garis nasib". Anak muda terjun ke sawah bukan karena cita-cita, melainkan karena menerima warisan lahan dari orang tua. Tanpa warisan, bertani dianggap mustahil karena mahalnya harga tanah. Sebuah mitos yang perlahan membunuh regenerasi di sektor pangan.


Sekdin DPKPP Kab.Karawang saat menerima kunjungan LPK Yutaka Education Center, Jumat (20/2/2026).


Kegelisahan inilah yang mempertemukan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Yutaka Education Center, pada Jumat (20/2/2026). Pertemuan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah misi menjemput harapan baru dari Negeri Sakura.


Mematahkan Belenggu "Petani Warisan"

Kepala DPKPP Kabupaten Karawang, Drs. Rohman, M.Si, mengaku antusias saat menerima kunjungan tersebut. Baginya, anak-anak muda Karawang yang sedang atau telah menimba ilmu di Jepang adalah aset yang sangat berharga. Mereka pulang tidak hanya membawa tabungan Yen, tetapi juga disiplin dan penguasaan teknologi.


"Kita ingin memutus mitos bahwa bertani itu harus menunggu punya lahan luas," ujar Rohman dengan nada tegas.


Saat ditemui awak media ini, Rohman membedah realita lapangan. Menurutnya, potensi pertanian Karawang sangat besar, namun "macet" di level regenerasi. Banyak anak muda mundur teratur karena membayangkan modal lahan yang fantastis. Di sinilah LPK Yutaka hadir mencari formula: bagaimana agar lulusan mereka bisa langsung "tancap gas" menjadi pengusaha tani tanpa harus memiliki berhektar-hektar sawah.


DPKPP menyarankan fokus pada pertanian bernilai tambah (high-value crops). Dengan efisiensi teknologi—seperti yang mereka lihat di Jepang—lahan sempit pun bisa menjadi ladang uang yang produktif.


Mimpi "Agent of Change" di Pedesaan

Bagi Rohman, visi besarnya adalah melihat alumni pelatihan Jepang ini menjadi Agent of Change (agen perubahan) di desa-desa. Ia ingin mereka menjadi bukti hidup bahwa bertani adalah profesi yang keren dan bermartabat.


"Bertani bukan sekadar menunggu warisan, tapi menciptakan masa depan. Jangan pulang dari Jepang hanya membawa tabungan, tapi bawalah mindset sebagai pengusaha," pesan Rohman untuk generasi muda.


Ia menekankan bahwa di era digital yang penuh ketidakpastian, sektor pertanian terbukti menjadi bidang yang paling tahan banting terhadap krisis. Rohman menjanjikan pintu DPKPP akan selalu terbuka lebar bagi pemuda yang ingin berdiskusi, memetakan komoditas pasar global, dan melakukan inovasi.


Menjaga Kehidupan

Di akhir perbincangan, Rohman memberikan sebuah refleksi mendalam yang menyentuh sisi kemanusiaan. "Karawang tidak boleh kehilangan petani. Jika kita berhenti menanam, kita berhenti memberi kehidupan," ucapnya optimis.


Menurut Rohman, dari kunjungan LPK Yutaka itu menjadi sinyal kuat bagi Kabupaten Karawang. Bahwa di masa depan, sawah-sawah di lumbung padi ini tidak lagi digarap dengan rasa terpaksa, melainkan dikelola oleh tangan-tangan muda yang bertani dengan teknologi, berbisnis dengan hati, dan berdaulat di tanahnya sendiri.


Matahari mungkin mulai bergeser ke barat, namun bagi pertanian Karawang, fajar baru bagi petani milenial sepertinya baru saja dimulai. ***


Editor: Ahmad Hasan S.


0 Komentar