![]() |
| Apresiasi dari H. Sunta, Tokoh Petani Desa Tanjungjaya, Tempuran. |
Karawang, MajalahPerjuangan.com - Di ufuk timur Karawang, tepatnya di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Tempuran, hamparan sawah bukan sekadar pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Bagi warga setempat, setiap jengkal tanah adalah tumpuan harapan dan setiap bulir padi adalah penyambung hidup yang diperjuangkan dengan peluh.
Namun, alam tak selamanya ramah. Banjir yang sempat mengepung wilayah ini beberapa waktu lalu menyisakan kecemasan hebat. Di benak petani, hanya ada satu tanya: “Apakah panen yang tersisa masih punya harga?”
Hadirnya Negara di Garis Pematang
Kekhawatiran itu terjawab bukan dengan janji, melainkan dengan kerja nyata di lapangan. Melalui sinergi yang melibatkan seluruh lini, mulai dari instruksi Presiden Prabowo Subianto hingga langkah taktis Menteri Pertanian Amran Sulaiman, negara hadir memastikan petani tidak berjalan sendirian.
Pemerintah Kabupaten Karawang di bawah komando Bupati H. Aep Syaepuloh bergerak cepat. Melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP), skema penyerapan gabah pun diaktivasi. Tidak bekerja sendiri, Bulog Cabang Karawang digandeng untuk menjadi juru selamat harga, memastikan gabah petani diserap dengan layak di tengah kondisi pascabanjir yang menantang.
Sinergi di Balik Seragam Hijau dan Lumpur
Pemandangan di lapangan menjadi potret yang humanis. Di sana, para petugas UPTD, Camat Tempuran, hingga PPL dan POPT tak lelah memberikan pendampingan teknis. Menariknya, terlihat pula para Babinsa dari Kodim 0604/Karawang yang bersiaga di pinggir sawah.
Kehadiran TNI dalam mengawal serapan gabah terdampak banjir ini memberikan rasa aman bagi petani. Ini adalah kolaborasi lintas sektor yang jarang terjadi namun sangat krusial; sebuah mesin birokrasi yang bekerja dengan hati untuk menjaga kedaulatan pangan dari akarnya.
"Kami berterima kasih. Saat sawah kami terdampak banjir, kami pikir semuanya akan hilang. Tapi dengan adanya serap gabah ini, hasil jerih payah kami tetap dihargai," ungkap H.Sunta salah seorang tokoh petani di Desa Tanjungjaya, dengan mata berkaca-kaca.
Lebih dari Sekadar Ketahanan Pangan
Langkah serap gabah di Tempuran ini sejatinya adalah manifestasi dari menjaga martabat petani. Saat harga gabah seringkali dipermainkan pasar saat bencana tiba, intervensi pemerintah menjadi benteng terakhir.
Ini adalah komitmen bersama untuk menjaga Karawang tetap menyandang predikat lumbung pangan nasional, bukan hanya melalui luas lahan, tapi melalui kesejahteraan para penggarapnya. Di Tanjung Jaya, kita belajar bahwa kedaulatan pangan bermula dari kepedulian yang tulus dan tangan-tangan yang saling menggenggam—dari pusat hingga ke desa, dari jenderal hingga ke petani.
Mentari di Tempuran sore itu terasa lebih hangat. Bukan karena teriknya, tapi karena harapan petani yang kini punya sandaran untuk tetap tegak menatap musim tanam berikutnya.***
Sumber: Instagram @dpkppkrwkab
Editor: Ahmad Hasan S.

0 Komentar