Membangun Desa Lewat Pendidikan, E. Heryana Dinobatkan Tokoh Inspiratif Karawang


Karawang, MajalahPerjuangan.com
- Sebuah praktik baik dalam pengelolaan dana desa untuk pendidikan, lahir dari Desa Purwadana, Kabupaten Karawang. Atas konsistensi dan keberanian kebijakan tersebut, Universitas Sehati Indonesia (USINDO) menganugerahkan penghargaan "Tokoh Inspiratif Kabupaten Karawang” kepada Kepala Desa Purwadana, E. Heryana, Rabu (31/12/2025).


Penghargaan ini bukan sekadar seremoni. USINDO menilai, tata kelola pendidikan di Purwadana telah melampaui pendekatan administratif semata dan menjelma menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia di tingkat desa. Model ini dinilai langka, terutama karena dijalankan secara berkelanjutan dan transparan.


Perwakilan USINDO menjelaskan, penetapan E. Heryana sebagai tokoh inspiratif didasarkan pada riset lapangan yang menyoroti konsistensi alokasi anggaran serta keberpihakan kebijakan desa terhadap sektor pendidikan. Purwadana dinilai berani memprioritaskan pendidikan melalui pemanfaatan Pendapatan Asli Desa (PAD) dan Dana Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah (DBH-PRD).


“Kami melihat adanya political will yang kuat dari seorang kepala desa. Purwadana membuktikan bahwa desa mampu mencetak generasi unggul tanpa harus sepenuhnya menunggu intervensi anggaran dari pusat. Ini role model yang nyata,” ujar perwakilan USINDO.


Selain fokus pada siswa, USINDO juga menyoroti inklusivitas program yang menyentuh kelompok yang kerap luput dari perhatian, mulai dari anak yatim, tenaga pengajar PAUD, hingga guru ngaji. Pendekatan ini dinilai mencerminkan pembangunan pendidikan yang utuh, tidak parsial.


Ditemui usai menerima penghargaan dalam Musyawarah Desa (Musdes), E. Heryana menyampaikan penghargaan tersebut sebagai pengingat akan tanggung jawab yang lebih besar. Ia menegaskan, kebijakan pendidikan di Purwadana lahir dari keyakinan bahwa kemiskinan hanya bisa diputus melalui akses pendidikan yang adil.


“Tidak boleh ada anak di Purwadana yang berhenti sekolah hanya karena alasan biaya. Pendidikan adalah pintu utama untuk mengubah nasib keluarga dan desa,” kata Heryana.


Saat ini, Pemerintah Desa Purwadana mengalokasikan anggaran sekitar Rp116,5 juta per tahun untuk mendukung pendidikan 225 siswa tingkat SD dan SMP. Anggaran tersebut bersumber dari dana desa, iuran aparatur desa, serta kontribusi pihak ketiga. Menurut Heryana, skema gotong royong ini sengaja dibangun agar tanggung jawab pendidikan menjadi urusan bersama.


Komitmen tersebut juga menyasar peningkatan kualitas aparatur desa. Melalui program beasiswa S1 sebesar Rp7 juta per tahun, perangkat desa didorong untuk meningkatkan kapasitas akademik agar pelayanan publik semakin profesional dan adaptif.


Di sisi lain, perhatian terhadap guru ngaji serta pemberian bantuan umrah bagi ustadz menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan intelektual dan spiritual masyarakat desa.


“Kami tidak hanya membangun jalan atau jembatan. Kami membangun manusianya. Infrastruktur bisa rusak, tetapi ilmu pengetahuan akan terus mengalir dan memberi manfaat lintas generasi,” ujar Heryana.


Apa yang dilakukan Desa Purwadana menunjukkan bahwa desa, dengan kepemimpinan yang visioner dan keberpihakan yang jelas, mampu menjadi pusat lahirnya perubahan sosial. Pendidikan tidak lagi ditempatkan sebagai beban anggaran, melainkan sebagai investasi paling berharga bagi masa depan. ***


Editor: Ahmad Hasan. 


0 Komentar