Kepala DPKPP Kab. Karawang : "Menjaga Sawah dengan Hati, Menjadikan Petani Tuan di Tanah Sendiri"

Kepala DPKPP Kabupaten Karawang Drs. Rohman, M.Si., saat monitoring sawah ke lapangan. 

Karawang, MajalahPerjuangan.com
— Bagi Drs. Rohman, M.Si., angka 1,4 juta ton gabah kering bukan sekadar statistik yang tersusun rapi di atas meja kerjanya. Sebagai Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang, angka itu adalah rekaman dari ribuan tetes keringat petani yang jatuh ke tanah setiap fajar menyingsing.


Saat membaca narasi capaian Karawang sebagai lumbung pangan nasional, mata Rohman berbinar. Ia melihat ada pengakuan yang tulus terhadap profesi yang selama ini sering kali dianggap sebelah mata.


"Berita ini bukan hanya tentang keberhasilan pemerintah, tapi tentang martabat petani kami," ujar Rohman dengan nada tenang namun tegas, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (14/1/2026).


Kepala DPKPP Kabupaten Karawang, bersama UPTD/BPP dan Tim Penyuluh Lapangan. 


Menghangatkan "Angka yang Dingin"

Dalam pandangan Rohman, narasi mengenai swasembada pangan sering kali terjebak dalam bahasa birokrasi yang kaku. Namun, ia mengapresiasi cara publik melihat Karawang saat ini: sebuah daerah yang berani melawan arus industrialisasi demi menjaga piring nasi bangsa.


Ia menekankan bahwa kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang "mengunci" hampir 88.000 hektare sawah adalah sebuah perisai. "Tanpa keberanian politik dari Bapak Bupati (Kang Aep), lahan-lahan itu mungkin sudah berubah jadi gudang atau pabrik. Kami di dinas memastikan 'perisai' itu tetap kokoh secara teknis di lapangan," lanjutnya.


Bagi Rohman, tugas dinas yang dipimpinnya bukan hanya soal bagi-bagi benih atau pupuk, melainkan membangun ekosistem yang membuat petani merasa dihargai. Salah satunya melalui insentif pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) yang telah dijalankan.


Pesan dari Pematang

Rohman menyadari, tantangan di tahun 2026 akan semakin berat. Kementerian Pertanian memberikan target produksi yang lebih tinggi. Namun, ia optimistis selama komunikasi antara pemerintah dan petani tetap hangat dan manusiawi.


"Ketika media menulis bahwa menjadi petani di Karawang adalah sebuah kebanggaan, itu adalah bantuan luar biasa bagi kami. Anak-anak muda jadi tidak malu lagi turun ke sawah. Mereka melihat bahwa negara hadir, mulai dari pembebasan pajak hingga kepastian pasar melalui kerja sama *food estate* dengan Jakarta," ungkapnya.


Penyematan Satya Lencana Wira Karya kepada Bupati Aep Syaepuloh, menurut Rohman, adalah validasi bagi seluruh penyuluh lapangan dan petani. Ia melihat penghargaan itu sebagai "bahan bakar" tambahan bagi timnya untuk terus mendampingi petani di 30 kecamatan di Karawang.


Menjaga Harapan Tetap Hijau

Di akhir perbincangan, Rohman mengingatkan bahwa swasembada pangan adalah sebuah kerja lari estafet yang tidak boleh berhenti. Di bawah langit Karawang yang mulai terik, ia tetap memegang teguh komitmennya: memastikan setiap jengkal tanah LP2B tetap hijau dan setiap petani tetap tersenyum saat musim panen tiba.


"Target 2026 sudah di depan mata. Kami tidak hanya mengejar tonase, tapi kami mengejar kesejahteraan. Karena lumbung pangan yang kuat hanya bisa lahir dari petani yang berdaya," pungkasnya.***


Editor: Ahmad Hasan S.

0 Komentar