![]() |
| Gambar ilustrasi |
Karawang, MajalahPerjuangan.com – Di bawah langit Januari yang kerap muram oleh mendung, Ato (62) berdiri menatap hamparan sawah di Dusun Jamantri, Desa Mekarjaya, Kecamatan Rawamerta, Karawang. Bagi sebagian petani, hujan lebat adalah kecemasan. Namun bagi Ato dan warga Mekarjaya, musim rendeng kali ini justru menjadi panggung pembuktian ketangguhan sistem pengairan mereka.
Rabu (28/1/2026) siang itu, guratan lelah di wajah Ato tertutup oleh binar syukur. Sambil menyeruput kopi di kediamannya, ia bercerita tentang keberhasilan panen yang baru saja usai. Di saat banyak lahan terendam banjir, sawah-sawah di Desa Mekarjaya justru menunjukkan produktivitas yang stabil.
![]() |
| Tokoh Petani Desa Mekarjaya, Ato (baju hitam). |
"Alhamdulillah, hasil panen musim rendeng ini rata-rata mencapai 6 hingga 6,5 ton Gabah Kering Pungut (GKP) per hektarnya," ujar Ato dengan nada bicara yang tenang namun mantap.
Menjinakkan Air di Lahan 'Pursat'
Desa Mekarjaya memiliki bentang sawah teknis seluas 300 hektar. Wilayah ini memiliki karakteristik unik yang oleh warga lokal disebut sebagai sawah pursat. Artinya, air bisa datang dengan cepat dan menggenang, namun bisa juga dikeringkan dengan segera.
Kuncinya terletak pada manajemen air yang apik. Saluran tersier yang tertata rapi memungkinkan petani mengatur debit air dengan presisi.
"Sawah di sini memang mudah banjir kalau hujan ekstrem, tapi karena saluran pembuangnya dekat dan sudah teratur, airnya cepat surut. Sawah mudah kering lagi," jelas Ato. Ketekunan warga merawat infrastruktur pengairan inilah yang membuat 300 hektar lahan di sana tetap produktif meski dihantam cuaca tak menentu.
Berkah di Harga Gabah
Kabar baik tidak hanya datang dari timbangan, tapi juga dari kantong para petani. Biasanya, kadar air yang tinggi pada gabah di musim hujan seringkali membuat harga merosot tajam. Namun, awal tahun 2026 ini membawa angin segar.
Ato mengungkapkan, harga GKP di tingkat petani saat ini mencapai Rp 6.800 per kilogram atau Rp 6,8 juta per ton. Angka ini tergolong sangat menggembirakan bagi petani di tengah tantangan musim basah.
Kehadiran negara melalui Bulog juga dirasakan langsung oleh mereka. "Pemerintah lewat Bulog turun tangan. Meski gabah basah, tetap dibeli dengan harga yang layak, sekitar Rp 6,5 juta per ton," pungkasnya.
Di usia senjanya, Ato tak sekadar bertani untuk menyambung hidup. Ia adalah potret ketangguhan petani Karawang yang memahami bahwa alam tak perlu dilawan, melainkan dikelola dengan akal dan kebersamaan. Dari Mekarjaya, kita belajar bahwa kedaulatan pangan dimulai dari saluran air yang lancar dan hati yang tak mudah menyerah pada cuaca.***
Laporan: Hamid
Editor: Ahmad Hasan S.


0 Komentar