Oleh: Redaksi Majalah Perjuangan
Sari Tausiyah bersama KH. Didin Saepudin, S.Pd.I, S.Sy., MM. (Kasi Bimas Islam Kemenag & Pengurus MUI Kabupaten Bandung Barat).
BANDUNG BARAT, (MP). - Pernahkah Anda membuka grup WhatsApp di pagi hari, berharap mendapat kabar hangat dari kerabat, namun justru disambut "perang urat syaraf" antar anggota? Perdebatan liar, saling sindir, hingga adu argumen yang menguras emosi kini seolah menjadi menu sarapan wajib di media sosial. Fenomena ini terasa ironis, mengingat grup-grup tersebut awalnya dibentuk atas nama Silaturahmi.
Dalam kunjungan Tim Redaksi Majalah Perjuangan ke kediaman KH. Didin Saepudin, S.Pd.I., S.Sy., MM., beliau memberikan catatan mendalam bagi kita semua. Beliau menyoroti bagaimana latar belakang status sosial dan keilmuan yang beragam seharusnya menjadi kekayaan, bukan bahan bakar perpecahan.
"Seblak" Pendapat: Pedas yang Menyakitkan atau Menikmati Keberagaman?
Kiai Didin, seorang pengasuh Pondok Pesantren di Kecamatan Cililin ini, memberikan perumpamaan yang sangat akrab di telinga kita: Seblak.
"Berpendapat secara liar itu seperti makan seblak level tinggi yang asal pedas. Ia hanya menyiksa lidah dan membuat air mata berurai tanpa rasa nyaman. Namun, jika pendapat dikemas dengan adab dan ilmu, ia seperti seblak level 3; ada pedasnya, tapi gurih, lezat, dan nikmatnya meresap sampai ke hati."
Kebebasan berpendapat memang dilindungi undang-undang, namun dalam Islam, kebebasan itu dibingkai oleh akhlak. Menyampaikan kebenaran dengan cara yang "liar" hanya akan membuat telinga merah dan hati terluka. Padahal, tujuan utama kita adalah mencari solusi, bukan mencari siapa yang paling jago memaki.
Pesan Langit: Berlomba dalam Kebaikan, Bukan Perdebatan
Allah SWT telah memberikan panduan cantik dalam QS. Al-Maidah ayat 48 yang berbunyi:
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَلَـٰكِن لّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ
"...Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan..."
Ayat ini adalah pengingat bahwa perbedaan adalah ketetapan-Nya (sunnatullah). Kita diberikan "aturan dan jalan yang terang" bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan sebagai ujian: sejauh mana kita mampu Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) di tengah perbedaan tersebut.
Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam sebuah hadist riwayat Abu Dawud:
"Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar."
Mengubah Energi Debat Menjadi Karya
Agar energi kita tidak habis sia-sia dalam ketikan jari yang emosional, Kiai Didin menawarkan dua solusi cerdas bagi warga grup dan masyarakat dalam menyikapi sebuah peristiwa:
1. Panggung Dialektika yang Terstruktur: Jika ingin mengupas tuntas sebuah masalah, buatlah ruang diskusi yang sehat. Ada tema yang jelas, ada moderator yang menengahi, dan ada ahli yang mumpuni. Ini jauh lebih bermartabat daripada "saling sahut" tanpa dasar di kolom komentar.
2. Menulis sebagai Jalan Dakwah: Jika panggung fisik tak memungkinkan, tuangkan pemikiran dalam bentuk karya tulis. Kirimkan opini Anda ke Redaksi Media Cetak atau Online. Menulis memaksa kita untuk berpikir jernih, meriset data, dan memilih kata yang santun.
Penutup
Mari kita jadikan jempol kita sebagai wasilah (perantara) kebaikan. Perbedaan pendapat adalah bumbu kehidupan, asalkan diolah dengan resep ilmu dan penyajian yang humanis. Jangan biarkan silaturahmi putus hanya karena ego sesaat. Karena pada akhirnya, kepada Allah-lah kita kembali, dan Ia akan memberitahukan hakikat dari apa yang kita perselisihkan.
Semangat Berjuang, Semangat Berbagi!
Salam hangat untuk Kang Hafid, sohibul baet, acara "Ngaliwet" bersama Alumni'MAN Bandung Barat. Ahad, 26/04/2026. Semoga sukses!

0 Komentar