Baru Seumur Jagung, Jalan Lamaran-Pasirkaliki Karawang Sudah Retak dan Pecah-pecah: Kualitas Proyek APBD Disorot


Karawang, MajalahPerjuangan.com
Kualitas proyek infrastruktur rekonstruksi Jalan Lamaran—Pasirkaliki di Desa Pasirkaliki, Kecamatan Rawamerta, Karawang, menuai sorotan tajam dari masyarakat.

Proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Karawang tahun 2025 senilai Rp 950 juta ini dituding dikerjakan tidak sesuai spesifikasi. Kondisi jalan cor beton yang baru selesai dibangun sudah menunjukkan kerusakan parah, amburadul, dan pecah-pecah.

Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian dan akses warga kini justru menimbulkan kekhawatiran. Padahal, dana ratusan juta rupiah telah digelontorkan untuk proyek yang dikerjakan oleh kontraktor PT. PRM (Kontrak nomor: 027.2/08/ 10.2..10.0029.33/KPA--JLN/PUPR/2025).

"Baru Seumur Jagung Sudah Murudul"
Warga setempat, Kartawi, penduduk Desa Pasirkaliki, mengaku sangat menyayangkan kondisi ini. Saat ditemui awak media pada Selasa (25/11), ia menegaskan bahwa kerusakan pada pekerjaan pengecoran jalan dekat jembatan Cilamaran itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

"Pantauan saya sejak awal kegiatan pembangunannya, seperti kurang pengawasan dari Pengawas Teknis Dinas terkait. Lihat saja, jalan yang belum lama dibangun ini sudah amburadul," ujar Kartawi dengan nada prihatin. "Usia pekerjaan baru seumur jagung, tapi kondisi cor jalan sudah murudul dan pecah-pecah."


Dugaan kuat mengarah pada pelaksanaan proyek yang tidak memenuhi standar kualitas yang dikeluarkan Dinas PUPR Kabupaten Karawang. Anggaran fantastis yang seharusnya menghasilkan infrastruktur prima, kini berujung pada jalan rusak dalam hitungan bulan.

Dibongkar Sebagian, Terlihat Genangan Air
Kekhawatiran yang sama juga disampaikan oleh Parman, seorang pengguna jalan sekaligus warga Desa Tegalsawah. Ia membenarkan bahwa proyek rekonstruksi jalan di dekat jembatan yang masuk Desa Pasirkaliki Rawamerta itu "baru beberapa bulan saja sudah hancur."

Parman juga menceritakan pengalamannya melihat langsung kejanggalan di lapangan. "Bahkan saya pernah melihat di lokasi, ada beberapa meter pekerjaan yang di bongkar lagi, tetapi tidak semua, hanya sekitar 15 meter," katanya.

Yang lebih memprihatinkan, pada titik bangunan jalan yang dibongkar, Parman menyaksikan adanya indikasi masalah fundamental. "Pada saat pengurugan masih terlihat genangan air sawah yang rembes. Tak heran bila kualitas jalan banyak yang retak-retak dan pecah-pecah berdebu," ungkapnya.

Fakta ini menguatkan dugaan bahwa pengerjaan proyek dilakukan tergesa-gesa tanpa memperhatikan kondisi dasar lahan, seperti genangan air yang seharusnya ditangani secara tuntas sebelum pengecoran beton dilakukan.

Mendesak Evaluasi dan Akuntabilitas
Sorotan warga ini bukan sekadar keluhan, melainkan alarm kritis bagi Pemerintah Kabupaten Karawang. Proyek Rp 950 juta dari uang rakyat ini wajib dipertanggungjawabkan kualitasnya.

Dinas PUPR Kabupaten Karawang didesak untuk segera turun tangan, mengevaluasi total pelaksanaan proyek oleh PT. PRM, dan menjelaskan kepada publik mengapa pengawasan teknis seolah 'kecolongan', membiarkan jalan berkualitas rendah dibangun dengan anggaran yang besar. Kerusakan dini pada infrastruktur publik adalah kerugian ganda: pemborosan uang negara dan ancaman bagi keselamatan pengguna jalan. (Hamid/Ahass).

0 Komentar